Home

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Selasa, 09 Desember 2014

Makna Hidup



Oleh : Tarsudi
Selasa, 04 November 2014 / 11 Muharam 1436 H / 08:30 wib
Suara dering telepon umum, sejenak mengusik keseriusanku yang sedang bermain catur dengan teman kerjaku saat tugas malam. Akupun angkat telepon, “selamat malam dengan Maintenace, ada yang bisa saya bantu..?”. jawab saya. Kudengar jawaban itu sedikit ada suara tertawa tertahan. “Broo ini gwa Pandito, gwa minta tolong bantuin kerjaan gwa nih Broo”. Dengan logat betawi gaulnya yang kental, sambil tertawa dan sedikit nada berbelas kasih agar bisa dibantuin. “ok kamu tunggu ajah ntar saya kesitu”.  Jawabku tanpa kompromi. Aku sering membantu kerjaanya semenjak aku baru masuk kerja di Rumah sakit, karena dia salah satu teman yang baik menurutku saat dia menyambut baik kedatanganku, jadi akupun tak sungkan membantunya ketika dia minta tolong.
Sayapun langsung bergegas menuju ruangan bayi, ntah seakan malam itu mendapat pelajaran berarti yang membuatku berfikir refresh kemasa lalu, kejadian itu ntah disengaja atau tidak, Dia ( Pandito ) minta tolong untuk memperbaiki alat Medis yaitu ; Inkubator bayi, pas kebetulan disitu ada banyak bayi – bayi kecil imut, masih merah muda dan sangat kecil ukuran tubuhnya, yang baru saja dilahirkan oleh seorang manusia yang Mulia yang mengorbankan seluruh hidup dan matinya demi sang buah hati (anak), yang akan mendidiknya sampai menjadi orang – orang hebat kelak. Aku perhatikan dengan seksama tangisan – tangisan bayi mungil itu yang tengah dirawat oleh Suster, “ooh aku dulu seperti itu...??”. lamun saya.
            Saya sempat berfikir dan menghayati proses pertumbuhan manusia yang dijelaskan dalam Al quran surat Al alaq :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Di telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah” ( TQS. Al Alaq : 1-3 )
            Dimulai dari pertemuan jutaan sel sperma (laki-laki) yang bergerak untuk bertemu dengan sel telur (perempuan) hingga terjadi proses yang luar biasa dangan adanya campur tangan sang Maha pencipta Allah jalla jalaluh, yang tidak bisa dicerna dengan akal manusia yang terbatas, kecuali orang – orang yang beriman. Dari zigot (segumpal darah) menjadi segumpal daging, sampai membentuk tubuh manusia yang kita sebut dengan jabang bayi, yang tadinya dia hanya hidup didalam perut ibu melalui puser untuk menyerap nutrisi makanan, dan sampai dikeluarkan ke alam duniapun tidak punya apa – apa, kecuali ia hanya mengandalkan 2 bibir dan satu mulut untuk menjemput ridzkinya. ( lebih jelas baca buku Harun Yahya tentang penciptaan Manusia ).
proses kelahiran bayi
            Dia bergantung hidup sama sang Ibu  tidak hanya saat dikandungan, dari pas lahir menjadi Bayi (balita), anak – anak sampai remaja kita tetap bergantung padanya, kecuali Baligh (dewasa) tapi kadang kitapun tetap masih merepotkanya. Bener tidak kawan ??? kadang masalah – maslah seperti ini jarang kita fikirkan. Pasti kalian semua pernah mendengar clotehan – clotehan Ibu kita yang pas marah dan kesel sama kita, dia bilang, “sirakuh gede semono olie sapa ??”. (silahkan terjemahkan sendiri dengan buka Translite pilih bahasa Indramayu, pasti tidak bakal ketemu...hehe”). Betapa marahnya sang Ibu sampai beliau mengatakn hal seperti itu, tanpa kita sadari proses kita dari lahir hingga dewasa, tahunya kita sudah besar, kuat, punya nalar, pintar hingga tak sadar kita sering menyakiti hati orang tua kita, Astaghfirullah...!!! semoga diampuni atas kelalaian kita dan dosa – dosa kita kawan. Dan tumbuhkanlah rasa cinta ini padanya dan mampuhkanlah kami untuk berbakti padanya ya Rabb....? Robbihgfirli wali wali daya, warham huma kamaa robbayana siroro”. Amiin..
            Kita hidup tidak punya apa – apa kawan, semua kekuatan, kecerdasan, kekayaan, kecantikan, ketampanan, hingga kekuasaan semua itu hanyalah titipan. Coba kita renungi kejadian proses kita saat dilahirkan sampai dewasa ini, semuanya lemah dan tak berdaya, terbaring, tak bisa jalan, tidak bisa berfikir, kita hanya bisa menangis berkoar – koar saat masih bayi, tapi tak sadar setelah dewasa seakan semua adalah milik kita, seakan kita hidup besar sendiri.
            Mungkin cukup sampai disini kawan pelajaran yang saya ambil semoga ada hikmah, hayati dan renungkanlah proses kehidupan kita dari lahir sampai sekarang ini agar tahu akan  hidup sebenarnya. Dan sayapun mohon maaf kepada kawan – kawan pembaca sekalian, yang pernah aku sakiti, baik disengaja or tidak lewat tuliasan – tulisan yang pernah saya tulis. Saya tidak bermaksud menggurui  apalagi menceramahi kawan sekalian, karena jujur sayapun mahluk dhoif tempatnya salah dan dosa. Karena semua ini adalah jalan kita saling mengingatkan akan kebaikan melalui kejadian – kejadian dan pengalaman yang pernah kualami.
            Karena menurutku, apapun yang kita alami disetiap langkah hidup, aktifitas, gerak kita, merupakan sebuah pembelajaran dan pengalaman, alangkah baiknya jika semua itu kita jadikan sebagai pesan untuk kebaikan, agar kita selalu dekat dengan Allah swt. Wallahua’lam....
Semoga bermanfaat....!!!!

Wassalamualaikum wr.wb    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar