Oleh : Tarsudi
Selasa, 04 November 2014 / 11 Muharam 1436 H /
08:30 wib
Suara dering telepon umum, sejenak mengusik
keseriusanku yang sedang bermain catur dengan teman kerjaku saat tugas malam.
Akupun angkat telepon, “selamat malam dengan Maintenace, ada yang bisa saya
bantu..?”. jawab saya. Kudengar jawaban itu sedikit ada suara tertawa tertahan.
“Broo ini gwa Pandito, gwa minta tolong bantuin kerjaan gwa nih Broo”. Dengan
logat betawi gaulnya yang kental, sambil tertawa dan sedikit nada berbelas
kasih agar bisa dibantuin. “ok kamu tunggu ajah ntar saya kesitu”. Jawabku tanpa kompromi. Aku sering membantu
kerjaanya semenjak aku baru masuk kerja di Rumah sakit, karena dia salah satu
teman yang baik menurutku saat dia menyambut baik kedatanganku, jadi akupun tak
sungkan membantunya ketika dia minta tolong.
Sayapun langsung bergegas menuju ruangan bayi,
ntah seakan malam itu mendapat pelajaran berarti yang membuatku berfikir
refresh kemasa lalu, kejadian itu ntah disengaja atau tidak, Dia ( Pandito )
minta tolong untuk memperbaiki alat Medis yaitu ; Inkubator bayi, pas kebetulan
disitu ada banyak bayi – bayi kecil imut, masih merah muda dan sangat kecil
ukuran tubuhnya, yang baru saja dilahirkan oleh seorang manusia yang Mulia yang
mengorbankan seluruh hidup dan matinya demi sang buah hati (anak), yang akan
mendidiknya sampai menjadi orang – orang hebat kelak. Aku perhatikan dengan
seksama tangisan – tangisan bayi mungil itu yang tengah dirawat oleh Suster,
“ooh aku dulu seperti itu...??”. lamun saya.
Saya
sempat berfikir dan menghayati proses pertumbuhan manusia yang dijelaskan dalam
Al quran surat Al alaq :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan. Di telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan
Tuhanmulah yang paling pemurah” ( TQS. Al Alaq : 1-3 )
Dimulai
dari pertemuan jutaan sel sperma (laki-laki) yang bergerak untuk bertemu dengan
sel telur (perempuan) hingga terjadi proses yang luar biasa dangan adanya
campur tangan sang Maha pencipta Allah jalla jalaluh, yang tidak bisa dicerna
dengan akal manusia yang terbatas, kecuali orang – orang yang beriman. Dari
zigot (segumpal darah) menjadi segumpal daging, sampai membentuk tubuh manusia
yang kita sebut dengan jabang bayi, yang tadinya dia hanya hidup didalam perut ibu
melalui puser untuk menyerap nutrisi makanan, dan sampai dikeluarkan ke alam
duniapun tidak punya apa – apa, kecuali ia hanya mengandalkan 2 bibir dan satu
mulut untuk menjemput ridzkinya. ( lebih jelas baca buku Harun Yahya tentang
penciptaan Manusia ).
![]() | |
| proses kelahiran bayi |
Dia
bergantung hidup sama sang Ibu tidak
hanya saat dikandungan, dari pas lahir menjadi Bayi (balita), anak – anak
sampai remaja kita tetap bergantung padanya, kecuali Baligh (dewasa) tapi
kadang kitapun tetap masih merepotkanya. Bener tidak kawan ??? kadang masalah –
maslah seperti ini jarang kita fikirkan. Pasti kalian semua pernah mendengar
clotehan – clotehan Ibu kita yang pas marah dan kesel sama kita, dia bilang,
“sirakuh gede semono olie sapa ??”. (silahkan terjemahkan sendiri dengan buka
Translite pilih bahasa Indramayu, pasti tidak bakal ketemu...hehe”). Betapa
marahnya sang Ibu sampai beliau mengatakn hal seperti itu, tanpa kita sadari
proses kita dari lahir hingga dewasa, tahunya kita sudah besar, kuat, punya
nalar, pintar hingga tak sadar kita sering menyakiti hati orang tua kita,
Astaghfirullah...!!! semoga diampuni atas kelalaian kita dan dosa – dosa kita
kawan. Dan tumbuhkanlah rasa cinta ini padanya dan mampuhkanlah kami untuk
berbakti padanya ya Rabb....? Robbihgfirli wali wali daya, warham huma kamaa
robbayana siroro”. Amiin..
Kita
hidup tidak punya apa – apa kawan, semua kekuatan, kecerdasan, kekayaan,
kecantikan, ketampanan, hingga kekuasaan semua itu hanyalah titipan. Coba kita
renungi kejadian proses kita saat dilahirkan sampai dewasa ini, semuanya lemah
dan tak berdaya, terbaring, tak bisa jalan, tidak bisa berfikir, kita hanya
bisa menangis berkoar – koar saat masih bayi, tapi tak sadar setelah dewasa
seakan semua adalah milik kita, seakan kita hidup besar sendiri.
Mungkin
cukup sampai disini kawan pelajaran yang saya ambil semoga ada hikmah, hayati
dan renungkanlah proses kehidupan kita dari lahir sampai sekarang ini agar tahu
akan hidup sebenarnya. Dan sayapun mohon
maaf kepada kawan – kawan pembaca sekalian, yang pernah aku sakiti, baik
disengaja or tidak lewat tuliasan – tulisan yang pernah saya tulis. Saya tidak
bermaksud menggurui apalagi menceramahi
kawan sekalian, karena jujur sayapun mahluk dhoif tempatnya salah dan dosa.
Karena semua ini adalah jalan kita saling mengingatkan akan kebaikan melalui
kejadian – kejadian dan pengalaman yang pernah kualami.
Karena
menurutku, apapun yang kita alami disetiap langkah hidup, aktifitas, gerak
kita, merupakan sebuah pembelajaran dan pengalaman, alangkah baiknya jika semua
itu kita jadikan sebagai pesan untuk kebaikan, agar kita selalu dekat dengan
Allah swt. Wallahua’lam....
Semoga bermanfaat....!!!!
Wassalamualaikum wr.wb


Tidak ada komentar:
Posting Komentar