Home

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Senin, 22 Agustus 2016

"Sesungguhnya Hidup ini untuk Memberi"


  Rumah Zakat


Hidup disebuah negeri bernama Indonesia, sungguh merupakan anugerah yang teramat besar bagi kita. Seberapa makmjur negeri ini, tak perlu kita meragukanya. Negeri ini teramat indah. Keindahan yang mempesona siapapun yang berada diluar sana. Maklum saja, karena keindahan itulah, jika kemudian di masa silam, negeri ini selalu menjadi incaran para kaum penjajah. Dan bisa jadi, sampai detik ini masig saja ada orang – orang diluar sana yang diam-diam masih menaruh minat untuk melakukan penjajahan dengan cara yang lebih halus.

Membicarakan pesona tanah Indonesia rasanya tidak akan pernah ada kata habisnya. Disini terdapat hewan – hewan yang beraneka ragam. Disini terdapat pantai – pantai dengan terumbu karang yang sangat elok. Disini ada ladang minyak, batu bara, bahkan emas. Dan tentu saja masih banyak lagi kekayaan alam lainya. Sorga Asia, demikian seorang kawan pernah berkomentar tentang Indonesia. 

Sayang, bayangan keindahan yang demikian itu, buru – buru akan pupus, musnah berganti dengan air mata kepedihan manakala kita menyaksikan realita yang terjadi di Indoensia.
Sampai detik ini, di negeri bernama Indonesia kelaparan masih saja meraja lela, orang – orang miskin terusaja bertambah, dan para pengemis demikian mudah ditemukan di jalan- jalan.
Disini, teramat banyak jumlah saudara kita yang kurang beruntung yang sehari – hari melepaskan lelah kolong – kolong jembatan, teramat banyak saudara kita yang tidak bisa menyekolahkan anak – anak mereka, meski pada level yang paling dasar, dan teramat banyak saudara – saudara kita yang tidak bisa mengobati diri mereka, manakala penyakit itu tiba – tiba datang menyerang. 

What wrong with Indonesia? Demikian seorang sahabat berkomentar. Apa sebenarnya yang keliru dengan Indonesia ini?  Jwabannya pun bisa beragam. 
Ada yang mengatakan kalau semua ini terjadi lantaran begitu bodohnya orang – orang Indoensia. Kebodohan yang teramat akut. Saking bodohnya, hingga tidak bisa mengelola pemberian Tuhan yang melimpah ruah itu hingga akhirnya harus menanggng kelaparan. Kita tidak jauh beda dengan seekor tikus yang mati dilumbung padi, Ironi, Tragis sekaligus Menggelikan. Masak, mati kelaparan kok dilumbung  padi.
Yang lainya, memberikan jawaban lebih akademis, agak samar dengan logika yang lebih makro. Kata mereka, semua ini terjadi lantaran sistem yang tidak beres. Untuk yang belakangan ini, agak susah menggamblangkan. Karena bila kita sedikit mau mendengar penjelasan-penjelasan mereka  tentang apa yang disebut dengan sistem. Masing – masing kepala rupanya memiliki standar yang berbeda – beda. 
“Kekayaan dan kemiskinan, ini adalah bagian dari warna kehidupan”, demikian orang bijak pernah bertutur. Seperti adanya kehangatan disiang hari daan dingin dimalah hari. Seperti adanya ketinggian gunung – gunung  dan kedalaman lautan. Seperti adanya panas dan dingin, seperti itulah keberadaan kekayaan dan kemiskinan. Di manapun, kapanpun dan pada masa apapun, selalu saja ada orang – orang yang miskin orang – orang yang kaya. 

Bagi orang yang sudah berada pada puncak kearifan, baik kekayaan maupun kemiskinan, keduanya adalah anugerah terindah yang diberikan Allah kepadanya. Kedua – duanya sesungguhnya merupakan jalan yang bisa ditempuh oleh seseorang untuk menuju  jalan Tuhan. Ketika seseorang sedang berada dalam kemiskinan, Tuhan seperti sedang hendak mengingatkan kalau dibalik kemisinanya itu, masih ada Tuhan yang  Maha kaya, yang paling pantas dimintai pertolongan. 

Kemiskinan juga adalah sebuah keadaan yang digunakan Tuhan untuk menguji kesabaranya. Sementara kekayaan yang dianugerahkan, merupakan salah satu media Tuhan menyapa hamba-Nya, agar selalu mengingatkan pemberian – pemberian itu untuk kemudian mensyukurinya.

Orang arif sangat sadar dengan sesadar – sadarnya, bahwa atas kekayaan yang ia miliki sesungguhnya bukanlah sepenuhnya miliknya. Disana terdapat bagian orang lain yang harus ia berikan. Ketika ia melihat orang – orang yang kurang beruntungdi hadapan, ia pun seolah melihat utusan Tuhan sedang meminta kembali barang titipanya. Buru – buru ia berikan hartanya itu dengan penuh keikhlasan. 

Semoga bermanfaat !!

#Dikutip dari buku Catatan Motivasi Seorang Santri
#Image diambil dari Yayasan Rumah Zakat

"Mari Meluaskan Hati Kita"


Pagi itu seorang anak dengan wajah kusut berjalan tak terarah dipinggir danau. Bertemulah ia dengan seorang kakek tua yang bijaksana. Terjadilah dialog diantara keduanya. Anak muda itu menumpahkan seluruh penderitaan batinya kepada sang kakek. Sementara kakek tua itu pun mendengarkannya dengan penuh seksama.

Ketika sang anak muda sudah menuntaskan semua ceritanya itu, bergegaslah sang kakek kedalam rumah, lalu ia muncul kembali dengan menggenggam garam.

"Nak, coba kamu masukan garam ini kedalam air gelas itu, aduk dan kemudian cicipilah," pinta sang kakek.
"Bagaimana rasanya?" Kakek itu bertanya kembali.
"Asin sekali, jug pahit," jawab anak muda itu.
"Sekarang bergegaslah kamu ke danau yang ada di belakangmu itu. Tuangkan segelas airmu yang asin itu ke sana. Lalu aduklah danau itu dan rasakan".
"Bagaimana rasanya?"
"Segar," sahut anak muda itu.
"Apakah kamu merasakan asin garam di dalam air itu ?" tanya kakek lagi.
"Tidak, " jawab si anak muda.
"Anak muda, dengarkanlah baik-baik kata-kataku ini. Pahit getirnya kehidupan layaknya segenggam garam tadi. Tak lebih juga tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu sam dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita miliki. Kalau hati kita sekecil gelas tadi , maka pahit getir kehidupan itu akan terasa menyiksa. Namun jika hati kita seluas samudera, maka kegetiran dan rasa asin itu tidak lagi mampu merusak suasana batin kita. Jadi anakku, jika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu jalan yang bisa kamu lakukan, yakni lapangkanlah dadamu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Dalam menjalani kehidupan ini, masa-masa getir adalah sesuatu yang tak mungkin terelakkan. Masa-masa getir itu tak ubahnya badai yang sewaktu-waktu hadir ditengah samudera, bak malam yang menyirnakan cahaya. Begitu juga kita tidak mungkin mengelak kehadiran orang-orang yang tidak menyukai kita.

"Manusia bijak seperti air danau yang dalam, begitu tenang dan bening, seolah apapun yang dilemparkan ke danau itu, tertelan begitu saja, airnya tetap tenang dan jernih".

‪#‎Dikutip‬ dari buku Catatan Motivasi Seorang Santri. ‪#‎semogaBermanfaat‬.

Senin, 07 Maret 2016

"Ketika Ujian Itu Datang"



Oleh Tarsudi
Senin, 27 Jumadil Awal 1437 H / 7 Maret 2016 / 23:30 WIB

Setelah selesai sholat Isya berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumah, seperti biasa kuhabiskan waktu itu untuk beristirahat dikamar sambil melepas lelah setelah seharian beraktifitas. Dering  nada ponsel bergetar, setelah kulihat ada pesan online dari teman kuliahku dulu. Dia adalah teman perempuan yang paling aktif diorganisasi, tak jarang setiap masalah kita saling diskusi dan berbagi motivasi. Namun semenjak dia memutuskan untuk menikah dua tahun yang lalu, kita sudah lost contact dan jarang bertemu. Dan setelah aku baca dari isi pesanya, kurang lebih isinya, dia minta saran dan suport tentang masalah kehidupan yang dijalaninya. Tak lama akupun langsung membalas pesanya, dengan memberikan suport dan motivasi agar bisa bersemangat kembali dalam menjalani hidup, untuk meraih cita – cita yang pernah diimpikan.
 
Kurenungkan pada kehidupanku sendiri. Memang adakalanya kita merasa sepi, suasana ramai disekeliling kita tak sanggup mengusir kesendirian . kata – kata yang mengalir dari mulut – mulut orang yang mecintai kita tak sanggup memacu semangat jiwa. Ajakan mereka untuk bergembira dan mengisi hidup yang Cuma sekali ini dengan kebaikan tak mampu untuk memotivasi diri. Karena fitrah manusia sebagai mahluk sosial adalah selalu berdampingan dengan manusia lain, baik secara fisik maupun jiwa. Begitupun ketika kita sedang mengahadapi problema kehidupan, maka [eran seorang sahabat kadang sangat dibutuhkan untuk menyelesaikanya, walaupun hanya sebatas dukungan dan saran.

Ketika sebuah ujian itu datang menghampiri, kita kadang merasa yang paling sengsara, paling susah, dunia ini sangat kejam, bahkan kerap menyalahkan Tuhan. Kita selalu menganggap kehidupan orang lain lebih baik dari kita, padahal belum tentu apa yang orang lain rasakan itu sama seperti apa yang kita fikirkan. Padahal disekeliling kita masih banyak orang – orang yang sudah lama menderita, beban hidup yang mereka pikul bisa jadi lebih berat daripada yang kita milki. 

            “Janganlah engkau mengira bahwa sebuah kesuksesan itu datang begitu saja. Sesungguhnya kesuksesan itu datang dengan segenap perjuangan dan pengorbanan yang dimulai dari kecil kemudian baru bisa membesar” 

Memang ujian untuk setiap orang beda – beda, sang pengujipun sudah tau kapasitasnya masing – masing kita. Jika hal itu kita pahami, tak sepantasnya kita menyesali hidup ini untuk berputus asa. Jika mereka bisa bangkit, kenapa diri kita tidak bisa ? padahal mereka sama seprti kita, punya kelebihan dan kekurangan. Jangan jadikan kelebihan mereka menjadi duri pelemah, tapi sebaliknya hal itu jadikan sebagai pupuk penyubur kekuatan jiwa. Harapan itu harus ada, manusia tidak akan bisa hidup jika tidak ada harapan dalam dirinya. Semangat harus tumbuh agar bisa mewujudkan harapan tersebut menjadi kenyataan. Dan satu yang pasti orang yang beriman tidak pernah berada dalam kesendirian, tapi ada Allah yang menyertai hidup kita. Kita tidak pernah sendiri, ada keluarga, ada sahabat, ada kawan, ada teman. Bukankah mereka yang satu akidah dengan kita berarti saudara kita. Bisa jadi pertolongan Allah datang dari tangan – tangan mereka. Rajutlah kembali tali ukhuwah sailaturami kita, karena bisa jadi itu sumber kekuatan. 

            “Apa yang berat dipikul sendiri, akan terasa ringan saat ditanggung bersama”

La Tahzan, untuk sahabatku !! jangan takut untuk melangkah dan mencoba, jika keyakinan menyertaimu maka kemudahan itu pasti datang. Allahua’lam bisshowam...

Sabtu, 03 Januari 2015

History of the propeth Muhammad saw (part I)


Sabtu, 13 Rabiulawal 1436 H / 3 Januari 2015 / 20:00 wib


Kawan moment kelahiran nabi sudah kita lewati, namun apa yang telah kita dapatkan dan pahami untuk mengenang kelahiran nabi Muhammad saw. Mungkin banyak cara dan expresi yang dilakukan masing- masing kalian dalam mengenang maulid nabi, walaupun banyak kotrofersi akan perayaan maulid nabi namun sejatinya itu hanyalah bumbu kehidupan dalam memahami islam dan pada intinyapun adalah bermuara kepada kebaikan yaitu dien Islam sebagai rahmatalil’alamin rahmat bagi seleuruh alam. Kita banyak melihat moment – moment sejarah Islam banyak dilupakan oleh generasi penerus Islam, bahkan sudah kehilangan akan kepercayaan dirinya dengan identitas Islam mereka lebih memilih moment – moment perayaan non Islam, sungguh sangat menyedihkan keadaan sperti ini. 

Dengan moment ini setidaknya kita diingatkan untuk mengenang dan membaca sejarah kelahiran nabi Muhammad saw, baik lewat kitab Barjanji maupun dengan artikel – artikel Islam agar lebih meningkatkan kecintaan kita kepada beliau. Allahuma sholialamuhamad....


A. KELAHIRAN NABI MUHAMMAD
            Dikala umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya, lahirlah kedunia dari keluarga yang sederhana, di kota Mekah. Seorang bayi yang kelak membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia. Bayi itu yatim bapaknya yang bernama Abdullah meninggal ± 7 bulan sebelum dia lahir. Kelahiran bayi tersebut disambut oleh kakeknya Abdul Muthalib dengan penuh kasih sayang dan kemudian bayi itu dibawa kekaki Ka’bah. Di tempat inilah bayi tersebut di beri nama Muhammad suatu nama yang belum ada sebelumnya, yang lahir pada tanggal 12 robbiulawal tahun Gajah atau tanggal 20 April tahun 571 M.

            Nabi Muhammad adalah keturunan dari Qushai pahlawan dari suku Quraiys yang berhasil menggulingkan suku khusa’ah atas kota Mekah. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdumanaf bin Qushai bin kilab bin Murrah dari golongan Arab banu Ismail. Ibunya bernama Aminah bintu Wahab bin Abdumanaf bin bin Zuhrah bin Klab bin Murah. Disinlah silsilah keturunan ayah dan ibu nabi Muhammad s.a.w bertemu, baik keluarga pada pihak bapak maupun dari ibu keduanya termasuk golongan bangsawan yang terhormat dalam kalangan kabilah-kabilah Arab.

            Sudah menjadi kebiasaan orang Arab kota Mekah, terutama pada orang-orang yang tergolong Bangsawan, menyusukan dan menitipkan bayi mereka kewanita Badiyah (dusun di padang pasir) agar bayi-bayi itu dapat menghirup hawa yang bersih,supaya bayi-bayi itu dapat berbicara dengan bahasa yang murni dan fasih. Demikinlah halnya nabi Muhammad s.a.w beliau diserahkan oelh ibunya kepada seorang perempuan yang baik, Halimah Sa’diyah dari Bani sa’ad kabilah Hawazin, tempatnya tidak jauh dari kota Mekah. Di perkampungan Bani sa’ad inilah nabi Muhammad s.a.w diasuh dan dibesarkan hingga berusia 5 tahun.

            Ketika berumur 5 tahun Muhammad diantarkanya ke Mekah kembali kepada Ibunya Siti Aminah. Dan setelah berusia 6 tahun beliau dibawa ibunya ke Madinah yang bermaksud untuk mengenalkan kepada keluarga neneknya Bani Najjar dan unuk menziarahi makam ayahnya. Mereka tinggal disitu selama satu bulan, kemudian pulang kembali ke Mekah. Dalam perjalanan pulang, pada suatu tempat Abwa namnya, tiba-tiba ibunya jatuh sakit sehingga meninggal dan dimakamkan disitu juga. Daptlah dibayangkan beta sedihnya Muhammad bencana kemalangan atas keamitan ibunya, baru beberapa hari saja mendengar cerita ibunya tentang kematian ayahnya yang meninggal di saat dalam kandungan, sekarang ibunya meninggal pula dihadapan matanya. Sehingga ia hanya sebatang kara, menjadi seorang yatim piatu, taida seorang ayah dan seorang ibu. Dan disinilah Muhammad diasuh sendiri oleh kakeknya yang bernama abdul Muthalib, pada saat itu usia kakeknya sudah mencapai 80 tahun. Dia adalah seorang pemuka Quraiys yang disegani dan dihormati oleh segenap kaum Quraiys. Karena kasih sayang kakeknya sehingga Muhammad dapat hiburan dan dapat melupakan kemalangan nasibnya karena kematian ibunya. Tetapi keadaan ini tidak berjalan lama ± 2 tahun orang tua yang baik hati itupun meninggal dunia. Meninggalnya Abdul Muthalib itu bukan saja kemalangan nabi Muhammad s.a.w tetapi juga merupakan kemalangan bagi segenap peduduk Mekah, dengan meninggalnya Abdul Muthalib penduduk Mekah kehilangan seorang pembesar dan pemimpin yang cerdas, bijak sana, berani dan perwira yang tidak mudah untuk mencari gantinya.     

B. MUHAMMAD DIANGKAT MENJADI ROSUL
            Ketika menginjak usia 40 thn, Muhammad s.a.w lebih banyak mengerjakan thanuth. Dalam melakukan thanuth kadang-kadang beliau bermimpi, mimpi yang benar (Arru’ya ashaadiqah ), Pada malam 17 Ramadhan bertepatan dengan 6 agustus 610 M, di  waktu beliau berthanuth di gua Hira, datanglah malaikat Jibril a.s membawa wahyu dan menyuruh Muhammad untuk membacanya dengan kata ‘iqra’ (bacalah) dan beliau menjawab “aku tidak dapat membaca” lalu beliau direngkuh beberapa kali oleh Malaikat Jibril a.s hingga nafasnya sesak, lalu dilepas seraya disuruh membaca lagi oleh malaikat Jibril a.s tetapi beliau tidak bisa menjawab lagi, keadaan ini hingga berulang hingga 3 kali dan akhirnya Muhammad berkata “Apa yang aku baca” dan dibacalah oleh Jibril a.s pada surat Al alaq : 1 - 5. Inilah wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah s.w.t kepada nabi Muhammad s.a.w , dan pada saat inilah penobatan beliau sebagai Rosulallah atau utusan nabi kepada seluruh Umat manusia untuk menyampaikan risalahnya.
 

            Pada saat menerima pengangkatan menjadi Rosul ini, umur beliau mencapai 40 thn 6 bulan 8 hari menurut tahun Komariyah. Stelah menerma wahyu pertama beliau pulang kerumah dalam keadaan gemetar, sehingga minta diselimut oleh istrinya, Sitti Khadijah. Setelah agak reda cemasnya, maka dicertiakan kepada istrinya segala apa yang terjadi atas dirinya dengan rasa cemas dan khawatir. Tetapi istrinya yang bijaksana tu tidak sedikitpun memperlihatkan kekhawatiran dan kecemasan hatinyabahkan dengan khidmat ia menatap muka suaminya, serya berkat “Bergembiralah hai anak pamanku, tetapkanlah hatimu, demi tuhan yang jiwa Khadijah didalam tanganya, saya harap engkaulah yang akan menjadi nabi bagi umat kita ini. Allah tidak akan mengecewakan engka, bukankah engkau yang senantiasa berkata benar yang selalu menumbuhkan tali silaturahmi, bukankah yang senantiasa menolong anak yatim, memuliakan tetamu dan menolong setiap orang yang ditimpa kemalangan dan kesengsaraan ?” demkanlah Khadijah menentaramkan hati suamnya.

            Karena lelah setelah mengalami peristiwa besar yang baru saja terjadi itu, akhirnya beliaupun tertidur. Sementara itu Khadijah bergegas pergi ke rumah anak pamanya Warakah bin Naufal (sorang Nasrani yang dapat menulis bahasa Ibrani ke bahaasa Arab isi kitab Injl dan Thaurat) lalu diceritakanlah oleh Khadijah atas peristwa yang terjadi pada suaminya, setelah mendengar certia Khadijah beliau berkata “ Quddus, quddus, demi tuhan yang jiwa Waraqah di dalam tanganya, jika engkau membenarkan aku ya Khadijah sesungguhnya telah datang kepadanya (Muhammad) namus akbar (petunjuk besar), sebagaimana telah datangkepada nabi Musa a.s, dia sesungguhnya akan menjadi nabi bagi umat kita ini. Dan kataknlah padanya hendaklah ia tetap tenang ?”

            Khadijah kembali kerumahnya, lalu mencertakan kepada Nabi Muhammad apa yang telah di dikatakan oleh Waraqah bin Naufal dangan kata-kata yang lemah lembut yang dapat menghilangkan kecemasan dan kekhawatiran Rosulallah. 

Bersambung......

Sumber Tafsir Quran Ibnu katsir