Home

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Minggu, 21 Desember 2014

History Imam Syafei Part. I



Minggu, 28 Safar 1436 H / 21 Desember 2014 / 22:00 wib


Siapa yang tidak kenal dengan imam mahdzab yang satu ini, dengan karyanya yang sangat luar biasa dan paling banyak dipake serta diikuti oleh semua umat sebagai rujukan. Kita semua pasti kenal walau sebatas namanya saja, yaitu Imam syafei r.a, dia adalah salah satu imam mahdzab yang ke3 dari 4 imam mahzab  yang dipake sebagai rujukan umat muslim diseluruh dunia, beliau adalah murid dari imam Malik.
Saya akan memaparkan sejarah tokoh – tokoh Islam, salah satunya Imam Mahdzab yaitu Imam Syafei, mungkin teman - teman sekalian sudah banyak yang tahu sejarah beliau, tapi saya tidak menutup kemungkinan banyak dari teman - teman yang masih belum mengetahui sejarah Imam Syafei. Karena walau bagaimanapun mengenal sejarah Islam adalah salah satu cara kita untuk memahami dan mencintai Islam, jangan sampai kita menjadi seorang yang Taqlid buta (ikut-ikutan tapi tidak tahu apa manfaat dan kegunaanya), saya ingat dengan maqolah beliau tentang sayarat menuntut Ilmu, yaitu ; “wahai saudaraku ada 6 syarat agar engkau dapat menguasai ilmu, yang pertama engkau harus memiliki kecerdasan, memiliki semangat, memiliki kesungguhan dalam menuntut ilmu, harus memiliki bekal, harus ada pembimbing, dan yang terakhir waktu yang lama”, nah dari maqolah diatas sudah sampai manakah posisi kita ? apa baru sampai semangatnya saja ? apa sudah sampai waktu yang lama ? yang pasti semuanya tergantung pada niat masing – masing. Dan masih banyak lagi kata – kata dan pesan Mutiara beliau, diantaranya :

“Pergilah (merantaulah) dengan penuh keyakinan, niscaya akan engkau temui lima kegunaan, yaitu Ilmu Pengetahuan, Adab, pendapatan, menghilangkan kesedihan, mengagungkan jiwa, dan persahabatan”
Sungguh aku melihat air yang tergenang membawa bau yang tidak sedap. Jika ia terus mengalir maka air itu akan kelihatan bening dan sehat untuk diminum. Jika engkau biarkan air itu tergenang maka ia akan membusuk
Singa hutan dapat menerkam mangsanya, setelah ia meninggalkan sarangnya. Anak panah yang tajam tak akan mengenai sasarannya, jika tidak meninggalkan busurnya
Emas bagaikan debu, sebelum ditambang. Pohon cendana yang tetancap ditempatnya, tak ubah seumpama kayu bakar (kayu api)
“Jika engkau tinggalkan tempat kelahirnmu, engkau akan menemui derajat yang mulia ditempat yang baru, dan engkau bagaikan emas sudah terangkat dari tempatnya”

Itulah salah satu nasehat – nasehat beliau yang sangat luar biasa, sayapun banyak terinspirasi dari perkataan – perkataan beliau. Baiklah sahabat langsung saja saya akan menjelaskan runtutan sejarah imam Syafei dari sejak baru lahir sampai pola Istinbat yang digunakan. Semoga bermanfaat...!!!
Beliau di lahirkan pada tahun 150 H di Gaza. Imam Syafi'i menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengkaji hal-hal yang berkenaan Hukum Islam. Disamping itu beliau juga salah seorang ahli sya'ir yang terkenal dengan sya'irnya yang indah dan berisi. Syairnya-syairnya ibarat untaian mutiara yang gemerlap, penuh dengan ungkapan-ungkapan balaghah, hikmah, dan nasihat yang bernilai tinggi. Imam Syafi'i pencinta Ilmu Pengetahuan semenjak kecil. Beliau sudah khatam Al quran semenjak usia enam tahun dan beliau biasa mengkhatamkan al-Quran sebanyak enam puluh kali, terutama dalam bulan Ramadhan, terutama dibacanya ketika sholat. Imam Syafi'i seorang yang suka berderma dari apapun harta yang dimilikinya. Hidupnya sangat sederhana terutama dalam makan dan minum. Beliau tidak pernah makan kenyang semenjak usia enam belas tahun. Karena kekenyangan akan menambah berat badan, mengeraskan hati, menumpulkan otak, membawa mengantuk dan malas beribadah, demikian kata Imam Syafi'i. 

1.      Imam Syafi'i Sewaktu Kecil
Semenjak kecil imam Syafi'i telah hafal al-Quran dan Hadist. Dimana beliau mendengar ada orang Alim, maka beliau segera menemuinya untuk menimba Ilmu Pengetahuan. Ketika berusia masih kecil yaitu 14 tahun, beliau menceritakan hasratnya kepada ibundanya yang sangat dikasihinya tentang keinginannya untuk menambahkan Ilmu Pengetahuan dengan cara merantau.
Mulanya Ibundanya berat untuk melepaskanya, karena beliaulah seorang yang menjadi harapan ibunya untuk menjaganya di hari tuanya. Demi ketaatan dan kecintaan imam Syafi'i kepada Ibundanya, maka mulanya beliau terpaksa membatalkan keinginannya itu, demi kasih sayangnya kepada ibunya itu. Meskipun demikian akhirnya ibundanya mengizinkanya untuk memenuhi hajatnya untuk menambah Ilmu Pengetahuan.
Sebelum melepas kepergianya, maka ibundanya mendo'akannya : "Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam, Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keredhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut Ilmu Pengetahuan peninggalan Pesuruhmu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah permudahkanlah urusannya. Peliharakanlah keselamatanNya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan yang berguna, amiin"
Setelah selesai berdo'a ibundanya memeluknya dengan penuh kasih sayang dan dengan linangan air mata karena sedih untuk berpisah. Sambil berkata: "Pergilah anakku Allah bersamamu !!! Insya-Allah engkau akan menjadi bintang Ilmu yang paling gemerlap dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah ridha melepaskanmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan !!! Selepas ibunya mendo'akan, maka imam Syafi'i mencium tangan ibunya dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya. Sambil meninggalkan ibunda yang sangat dikasihinya dengan hati yang pilu imam Syafi'i melambaikan tangan mengucapkan salam selamat tinggal, dan mengharapkan ibundanya senantiasa mendo'akannya untuk kesejahteraan dan keberhasilannya dalam menuntut Ilmu Pengetahuan yang berguna.

Oleh karena kehidupannya yang sangat miskin, maka imam Syafi'i berangkat dengan tidak membawa perbekalan uang, kecuali dengan berbekalkan do'a ibunya dan cita-cita yang teguh untuk menambah Ilmu Pengetahuan sambil bertawakal kepada Allah s.w.t.
Imam Syafi'i mengisahkan perpisahan dengan ibunya dengan mengatakan
"Sesekali aku menoleh kebelakang untuk melambaikan tangan kepada ibuku. Dia masih terjegat diluar pekarangan rumah sambil memperhatikan aku. Lama-kelamaan wajah ibu menjadi samar ditelan kabut pagi. Aku meninggalkan kota Makkah yang penuh barkah, tanpa membawa sedikitpun bekalan uang, apa yang menjadi bekalan bagi diriku hanyalah Iman yang teguh dan hati yang penuh tawakkal kepada Allah s.w.t.serta do'a restu ibuku sahaja. Aku serahkan diriku kepada Allah seru sekalian Alam"

Sumber gambar : gamabar.imammahdzab.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar