Home

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sabtu, 20 Desember 2014

"Kupilih jalan ini"


Memilih jalan hidup
Oleh : Tarsudi
Minggu, 28 Safar 1436 H / 20 Desember 2014 / 00:00 wib

Saya kerap membayangkan, kapan bisa melanjutkan sekolah ?" dalam lamunan hati kecil. Karena disaat tugas kerja dulu , saya sering melihat mahasiswa dengan kesibukanya hilir mudik didepan kampus, berkumpul, ngobrol bersama teman - temanya seakan tidak ada sama sekali raut wajah dengan beban kesedihan, semunya terlihat senyum bahagia. di tambah di tempat kontrakan kerjaku dulu banyak anak kuliah di STT PLN yang membuat rasa ini iri kepada mereka - mereka yang sibuk sekolah. Seakan itu semua berbanding terbalik dengan keadaanku, di saat rasa semangat untuk ingin sekolah tinggi namun apa daya tubuh ini sudah kuhabiskan untuk bekerja bak mesin pencari uang, sedangkan teman - teman yang lain sibuk tanganya memegang pena untuk belajar.

Astaghfirullah...kadang saya merasa kufur nikmat, padahal dengan pendidikan sampai smk saja, seukuran kehidupanku yang notebene keluarga yang kurang mampu sudah lumayan Alhamdulillah. saya masih bersyukur, karena emaku masih peduli kepadaku untuk bisa melanjutkan sampai smk, walaupun dalam keadaan kekurangan, karena diluar sana masih banyak anak - anak yang putus sekolah karena faktor biaya. Kadang aku sering meratapi diri teringat kepada sesosok kedua orang tuaku terutama sang ibu yang sangat peduli terhadap pendidikan anaknya, walapun ibuku tak pernah sekolah. Saya memang banyak mengecewekan kedua orang tuaku, saya belum bisa membantunya sedangkan umurnya sudah mulai lanjut usia. Kapan saya bisa berbalas budi terhadap kedua orang tuaku ya Rabb...?

Aku putuskan sehabis lebaran idul fitri, saya mengajukan surat pengunduran diri dari tempat kerjaku, dengan alasan ingin melanjutkan sekolah lagi. Rupanya keinginan yang pernah aku impikan dimasa lalu membuat semangat motivasi diri semakin tinggi, hingga dapat mewujudkan keinginan bisa sekolah lagi. Dan ternyata benar apa kata ustadzku dulu,"Allah itu malu jika tidak mengabulkan doa orang - orang yang mau bertengadah di sepertiga malam",  apalagi doa itu baik. Meski kadang kita harus menunggu dan menanti dalam jangka waktu yang cukup lama, tapi Allah lebih tau kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan semua doa kita, ada yang satu minggu, sebulan, bahkan bertahun - tahun, yang penting kita harus sabar dan berhusnudzon.

Selepas keluar dari tempat kerjaan dulu, aku mencoba buka usaha bengkel kecil-kecilan untuk membiayai kebutuhan kuliahku, dan kujalani kehidupan dikampung bersama kedua orang tua dan adik - adiku yang masih sekolah. Namun penghasilan yang kudapat disini tidak sebesar waktu kerja dulu, hanya pas - pasan untuk biaya sekolahku, dan jatah yang biasa aku beri kepada orang tua seperti kerja dulu akhirnya tidak menentu. Dan kadang kulihat keadaan orang tuaku  seperti sudah tidak sanggup menanggung beban hidup, apalagi bapaku sudah tidak bekerja, hingga akupun kadang tak kuasa meneteskan air mata sedih, melihat keadaan hidup ini. Aku selalu berfikir menyalahkan diri sendiri, aku terlalu egois, terlalu mementingkan diri sendiri. Pikiran - pikiran itu kerap melintas didalam benak sanubari, yang selalu bertentangan dengan keadaan, diluar saya senang - senang untuk menghabiskan waktu kuliah bersama teman - teman, tetapi disisi lain aku melihat keadaan keluarga yang hanya hidup pas - pasan, seakan hidupku kontradiktif.
Rasa malu akan keagaglan kadang menjadi hal yang menakutkan

Kupilih jalan ini, pas genap empat Semester yang baru saja melaksanakan ujian akhir sekolah (UAS), aku memilih untuk kembali bekerja lagi. Dengan terpaksa "KUPILIH JALAN INI", meski terasa berat hati meninggalkan teman - teman kuliah dan organisasi, namun apa daya aku lebih memilih bekerja lagi, dengan berharap bisa mengurangi beban hidup orang tuaku, kuliah memang penting tapi aku berfikir orang tua jauh lebih penting dari segala - galanya. Biarpun kegagalan menghampiri hidupku, tapi itu semua akan kujadikan sebagai pelajaran hidup yang sangat berarti, kuyakin pasti akan mendapat teman - teman pengganti lebih baik yang dapat menghibur nanti, ditempat kerjaku yang baru.

Kau lepas kepergianku, dibalik raut wajah yang engkau simpan, kulihat kesedihan yang dalam darimu Emak, terpaksa kupilih jalan ini dengan berharap bisa membuatmu tersenyum dan kudapati rasa cinta yang lebih terhadapmu dan keluargaku. Dan kupamit, untuk meninggalkan semua yang ada, ini demi masa depan nanti, Aku bergegas pergi dengan rasa duka dan penyesalan yang sangat dalam, aku hanya berharap doa darimu, "Doakan anakmu semoga sukses dan baik - baik saja Emak".  Semoga....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar