Sabtu, 13 Rabiulawal 1436 H / 3 Januari 2015 / 20:00 wib
Kawan moment kelahiran nabi sudah kita lewati, namun apa yang telah kita
dapatkan dan pahami untuk mengenang kelahiran nabi Muhammad saw. Mungkin banyak
cara dan expresi yang dilakukan masing- masing kalian dalam mengenang maulid
nabi, walaupun banyak kotrofersi akan perayaan maulid nabi namun sejatinya itu
hanyalah bumbu kehidupan dalam memahami islam dan pada intinyapun adalah
bermuara kepada kebaikan yaitu dien Islam sebagai rahmatalil’alamin rahmat bagi
seleuruh alam. Kita banyak melihat moment – moment sejarah Islam banyak
dilupakan oleh generasi penerus Islam, bahkan sudah kehilangan akan kepercayaan
dirinya dengan identitas Islam mereka lebih memilih moment – moment perayaan
non Islam, sungguh sangat menyedihkan keadaan sperti ini.
Dengan moment ini setidaknya kita diingatkan untuk mengenang dan membaca
sejarah kelahiran nabi Muhammad saw, baik lewat kitab Barjanji maupun dengan
artikel – artikel Islam agar lebih meningkatkan kecintaan kita kepada beliau. Allahuma sholialamuhamad....
A. KELAHIRAN
NABI MUHAMMAD
Dikala umat
manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya, lahirlah kedunia dari
keluarga yang sederhana, di kota Mekah. Seorang bayi yang kelak
membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia. Bayi itu yatim bapaknya
yang bernama Abdullah meninggal ± 7 bulan sebelum dia lahir. Kelahiran bayi
tersebut disambut oleh kakeknya Abdul Muthalib dengan penuh kasih sayang dan
kemudian bayi itu dibawa kekaki Ka’bah. Di tempat inilah bayi tersebut di beri
nama Muhammad suatu nama yang belum ada sebelumnya, yang lahir pada tanggal 12 robbiulawal tahun Gajah atau tanggal 20 April tahun 571 M.
Nabi Muhammad adalah keturunan dari Qushai pahlawan dari
suku Quraiys yang berhasil menggulingkan suku khusa’ah atas kota Mekah. Ayahnya
bernama Abdullah bin Abdul Muthalib bin
Hasyim bin Abdumanaf bin Qushai bin kilab bin Murrah dari golongan Arab banu
Ismail. Ibunya bernama Aminah bintu
Wahab bin Abdumanaf bin bin Zuhrah bin Klab bin Murah. Disinlah silsilah
keturunan ayah dan ibu nabi Muhammad s.a.w bertemu, baik keluarga pada pihak
bapak maupun dari ibu keduanya termasuk golongan bangsawan yang terhormat dalam
kalangan kabilah-kabilah Arab.
Sudah menjadi kebiasaan orang Arab kota Mekah, terutama
pada orang-orang yang tergolong Bangsawan, menyusukan dan menitipkan bayi
mereka kewanita Badiyah (dusun di padang pasir) agar bayi-bayi itu dapat
menghirup hawa yang bersih,supaya bayi-bayi itu dapat berbicara dengan bahasa
yang murni dan fasih. Demikinlah halnya nabi Muhammad s.a.w beliau diserahkan
oelh ibunya kepada seorang perempuan yang baik, Halimah Sa’diyah dari Bani
sa’ad kabilah Hawazin, tempatnya tidak jauh dari kota Mekah. Di
perkampungan Bani sa’ad inilah nabi Muhammad s.a.w diasuh dan dibesarkan hingga
berusia 5 tahun.
Ketika berumur 5 tahun Muhammad diantarkanya ke Mekah kembali
kepada Ibunya Siti Aminah. Dan setelah berusia 6 tahun beliau dibawa ibunya ke
Madinah yang bermaksud untuk mengenalkan kepada keluarga neneknya Bani Najjar
dan unuk menziarahi makam ayahnya. Mereka tinggal disitu selama satu bulan,
kemudian pulang kembali ke Mekah. Dalam perjalanan pulang, pada suatu tempat
Abwa namnya, tiba-tiba ibunya jatuh sakit sehingga meninggal dan dimakamkan
disitu juga. Daptlah dibayangkan beta sedihnya Muhammad bencana kemalangan atas
keamitan ibunya, baru beberapa hari saja mendengar cerita ibunya tentang
kematian ayahnya yang meninggal di saat dalam kandungan, sekarang ibunya
meninggal pula dihadapan matanya. Sehingga ia hanya sebatang kara, menjadi
seorang yatim piatu, taida seorang ayah dan seorang ibu. Dan disinilah Muhammad
diasuh sendiri oleh kakeknya yang bernama abdul Muthalib, pada saat itu usia
kakeknya sudah mencapai 80 tahun. Dia adalah seorang pemuka Quraiys yang
disegani dan dihormati oleh segenap kaum Quraiys. Karena kasih sayang kakeknya
sehingga Muhammad dapat hiburan dan dapat melupakan kemalangan nasibnya karena
kematian ibunya. Tetapi keadaan ini tidak berjalan lama ± 2 tahun orang tua
yang baik hati itupun meninggal dunia. Meninggalnya Abdul Muthalib itu bukan
saja kemalangan nabi Muhammad s.a.w tetapi juga merupakan kemalangan bagi
segenap peduduk Mekah, dengan meninggalnya Abdul Muthalib penduduk Mekah
kehilangan seorang pembesar dan pemimpin yang cerdas, bijak sana, berani dan
perwira yang tidak mudah untuk mencari gantinya.
B.
MUHAMMAD DIANGKAT MENJADI ROSUL
Ketika menginjak usia 40 thn, Muhammad s.a.w lebih banyak
mengerjakan thanuth. Dalam melakukan thanuth kadang-kadang beliau bermimpi,
mimpi yang benar (Arru’ya ashaadiqah ), Pada malam 17 Ramadhan bertepatan dengan 6 agustus 610 M,
di waktu beliau berthanuth di gua Hira,
datanglah malaikat Jibril a.s membawa wahyu dan menyuruh Muhammad untuk
membacanya dengan kata ‘iqra’ (bacalah) dan beliau menjawab “aku tidak dapat
membaca” lalu beliau direngkuh beberapa kali oleh Malaikat Jibril a.s hingga
nafasnya sesak, lalu dilepas seraya disuruh membaca lagi oleh malaikat Jibril
a.s tetapi beliau tidak bisa menjawab lagi, keadaan ini hingga berulang hingga
3 kali dan akhirnya Muhammad berkata “Apa yang aku baca” dan dibacalah oleh
Jibril a.s pada surat Al alaq : 1 - 5. Inilah wahyu pertama yang diturunkan
oleh Allah s.w.t kepada nabi Muhammad s.a.w , dan pada saat inilah penobatan
beliau sebagai Rosulallah atau utusan nabi kepada seluruh Umat manusia untuk
menyampaikan risalahnya.
Pada saat menerima pengangkatan menjadi Rosul ini, umur
beliau mencapai 40 thn 6 bulan 8 hari menurut tahun Komariyah. Stelah menerma
wahyu pertama beliau pulang kerumah dalam keadaan gemetar, sehingga minta
diselimut oleh istrinya, Sitti Khadijah. Setelah agak reda cemasnya, maka
dicertiakan kepada istrinya segala apa yang terjadi atas dirinya dengan rasa
cemas dan khawatir. Tetapi istrinya yang bijaksana tu tidak sedikitpun
memperlihatkan kekhawatiran dan kecemasan hatinyabahkan dengan khidmat ia
menatap muka suaminya, serya berkat “Bergembiralah hai anak pamanku,
tetapkanlah hatimu, demi tuhan yang jiwa Khadijah didalam tanganya, saya harap
engkaulah yang akan menjadi nabi bagi umat kita ini. Allah tidak akan
mengecewakan engka, bukankah engkau yang senantiasa berkata benar yang selalu
menumbuhkan tali silaturahmi, bukankah yang senantiasa menolong anak yatim,
memuliakan tetamu dan menolong setiap orang yang ditimpa kemalangan dan
kesengsaraan ?” demkanlah Khadijah menentaramkan hati suamnya.
Karena lelah setelah mengalami peristiwa besar yang baru
saja terjadi itu, akhirnya beliaupun tertidur. Sementara itu Khadijah bergegas
pergi ke rumah anak pamanya Warakah bin Naufal (sorang Nasrani yang dapat
menulis bahasa Ibrani ke bahaasa Arab isi kitab Injl dan Thaurat) lalu
diceritakanlah oleh Khadijah atas peristwa yang terjadi pada suaminya, setelah
mendengar certia Khadijah beliau berkata “ Quddus, quddus, demi tuhan yang jiwa
Waraqah di dalam tanganya, jika engkau membenarkan aku ya Khadijah sesungguhnya
telah datang kepadanya (Muhammad) namus akbar (petunjuk besar), sebagaimana
telah datangkepada nabi Musa a.s, dia sesungguhnya akan menjadi nabi bagi umat
kita ini. Dan kataknlah padanya hendaklah ia tetap tenang ?”
Khadijah kembali kerumahnya, lalu mencertakan kepada Nabi
Muhammad apa yang telah di dikatakan oleh Waraqah bin Naufal dangan kata-kata
yang lemah lembut yang dapat menghilangkan kecemasan dan kekhawatiran
Rosulallah.
Bersambung......
Sumber Tafsir Quran Ibnu katsir

Tidak ada komentar:
Posting Komentar