Home

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Senin, 07 Maret 2016

"Ketika Ujian Itu Datang"



Oleh Tarsudi
Senin, 27 Jumadil Awal 1437 H / 7 Maret 2016 / 23:30 WIB

Setelah selesai sholat Isya berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumah, seperti biasa kuhabiskan waktu itu untuk beristirahat dikamar sambil melepas lelah setelah seharian beraktifitas. Dering  nada ponsel bergetar, setelah kulihat ada pesan online dari teman kuliahku dulu. Dia adalah teman perempuan yang paling aktif diorganisasi, tak jarang setiap masalah kita saling diskusi dan berbagi motivasi. Namun semenjak dia memutuskan untuk menikah dua tahun yang lalu, kita sudah lost contact dan jarang bertemu. Dan setelah aku baca dari isi pesanya, kurang lebih isinya, dia minta saran dan suport tentang masalah kehidupan yang dijalaninya. Tak lama akupun langsung membalas pesanya, dengan memberikan suport dan motivasi agar bisa bersemangat kembali dalam menjalani hidup, untuk meraih cita – cita yang pernah diimpikan.
 
Kurenungkan pada kehidupanku sendiri. Memang adakalanya kita merasa sepi, suasana ramai disekeliling kita tak sanggup mengusir kesendirian . kata – kata yang mengalir dari mulut – mulut orang yang mecintai kita tak sanggup memacu semangat jiwa. Ajakan mereka untuk bergembira dan mengisi hidup yang Cuma sekali ini dengan kebaikan tak mampu untuk memotivasi diri. Karena fitrah manusia sebagai mahluk sosial adalah selalu berdampingan dengan manusia lain, baik secara fisik maupun jiwa. Begitupun ketika kita sedang mengahadapi problema kehidupan, maka [eran seorang sahabat kadang sangat dibutuhkan untuk menyelesaikanya, walaupun hanya sebatas dukungan dan saran.

Ketika sebuah ujian itu datang menghampiri, kita kadang merasa yang paling sengsara, paling susah, dunia ini sangat kejam, bahkan kerap menyalahkan Tuhan. Kita selalu menganggap kehidupan orang lain lebih baik dari kita, padahal belum tentu apa yang orang lain rasakan itu sama seperti apa yang kita fikirkan. Padahal disekeliling kita masih banyak orang – orang yang sudah lama menderita, beban hidup yang mereka pikul bisa jadi lebih berat daripada yang kita milki. 

            “Janganlah engkau mengira bahwa sebuah kesuksesan itu datang begitu saja. Sesungguhnya kesuksesan itu datang dengan segenap perjuangan dan pengorbanan yang dimulai dari kecil kemudian baru bisa membesar” 

Memang ujian untuk setiap orang beda – beda, sang pengujipun sudah tau kapasitasnya masing – masing kita. Jika hal itu kita pahami, tak sepantasnya kita menyesali hidup ini untuk berputus asa. Jika mereka bisa bangkit, kenapa diri kita tidak bisa ? padahal mereka sama seprti kita, punya kelebihan dan kekurangan. Jangan jadikan kelebihan mereka menjadi duri pelemah, tapi sebaliknya hal itu jadikan sebagai pupuk penyubur kekuatan jiwa. Harapan itu harus ada, manusia tidak akan bisa hidup jika tidak ada harapan dalam dirinya. Semangat harus tumbuh agar bisa mewujudkan harapan tersebut menjadi kenyataan. Dan satu yang pasti orang yang beriman tidak pernah berada dalam kesendirian, tapi ada Allah yang menyertai hidup kita. Kita tidak pernah sendiri, ada keluarga, ada sahabat, ada kawan, ada teman. Bukankah mereka yang satu akidah dengan kita berarti saudara kita. Bisa jadi pertolongan Allah datang dari tangan – tangan mereka. Rajutlah kembali tali ukhuwah sailaturami kita, karena bisa jadi itu sumber kekuatan. 

            “Apa yang berat dipikul sendiri, akan terasa ringan saat ditanggung bersama”

La Tahzan, untuk sahabatku !! jangan takut untuk melangkah dan mencoba, jika keyakinan menyertaimu maka kemudahan itu pasti datang. Allahua’lam bisshowam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar