Home

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Senin, 22 Agustus 2016

"Mari Meluaskan Hati Kita"


Pagi itu seorang anak dengan wajah kusut berjalan tak terarah dipinggir danau. Bertemulah ia dengan seorang kakek tua yang bijaksana. Terjadilah dialog diantara keduanya. Anak muda itu menumpahkan seluruh penderitaan batinya kepada sang kakek. Sementara kakek tua itu pun mendengarkannya dengan penuh seksama.

Ketika sang anak muda sudah menuntaskan semua ceritanya itu, bergegaslah sang kakek kedalam rumah, lalu ia muncul kembali dengan menggenggam garam.

"Nak, coba kamu masukan garam ini kedalam air gelas itu, aduk dan kemudian cicipilah," pinta sang kakek.
"Bagaimana rasanya?" Kakek itu bertanya kembali.
"Asin sekali, jug pahit," jawab anak muda itu.
"Sekarang bergegaslah kamu ke danau yang ada di belakangmu itu. Tuangkan segelas airmu yang asin itu ke sana. Lalu aduklah danau itu dan rasakan".
"Bagaimana rasanya?"
"Segar," sahut anak muda itu.
"Apakah kamu merasakan asin garam di dalam air itu ?" tanya kakek lagi.
"Tidak, " jawab si anak muda.
"Anak muda, dengarkanlah baik-baik kata-kataku ini. Pahit getirnya kehidupan layaknya segenggam garam tadi. Tak lebih juga tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu sam dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita miliki. Kalau hati kita sekecil gelas tadi , maka pahit getir kehidupan itu akan terasa menyiksa. Namun jika hati kita seluas samudera, maka kegetiran dan rasa asin itu tidak lagi mampu merusak suasana batin kita. Jadi anakku, jika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu jalan yang bisa kamu lakukan, yakni lapangkanlah dadamu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Dalam menjalani kehidupan ini, masa-masa getir adalah sesuatu yang tak mungkin terelakkan. Masa-masa getir itu tak ubahnya badai yang sewaktu-waktu hadir ditengah samudera, bak malam yang menyirnakan cahaya. Begitu juga kita tidak mungkin mengelak kehadiran orang-orang yang tidak menyukai kita.

"Manusia bijak seperti air danau yang dalam, begitu tenang dan bening, seolah apapun yang dilemparkan ke danau itu, tertelan begitu saja, airnya tetap tenang dan jernih".

‪#‎Dikutip‬ dari buku Catatan Motivasi Seorang Santri. ‪#‎semogaBermanfaat‬.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar